Sekolah tidak harus selalu menunggu program baru untuk melakukan perubahan. Banyak inovasi pembelajaran sebenarnya sudah lahir dari ruang kelas, dari guru yang mencoba pendekatan berbeda, dan dari sekolah yang mampu memanfaatkan sumber daya yang tersedia.
Persoalannya, praktik baik tersebut sering berhenti di lingkungan sekolah sendiri. Ketika tidak dibagikan, pengalaman yang seharusnya dapat menjadi pembelajaran bersama akhirnya hanya menjadi cerita internal.
Gagasan untuk memberikan ruang kepada sekolah agar menunjukkan dan membagikan praktik baik menjadi penting dalam konteks tersebut.
Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen Gogot Suharwoto menekankan bahwa sekolah lain tidak harus memulai inovasi dari nol.
Pernyataan di atas tersebut menunjukkan bahwa perubahan pendidikan tidak selalu harus dimulai dengan membuat sesuatu yang sepenuhnya baru.
Sekolah dapat belajar dari apa yang sudah dilakukan sekolah lain. Guru dapat melihat cara guru lain mengembangkan pembelajaran, mengelola sumber daya, menggunakan teknologi, atau mengintegrasikan STEM dengan pembelajaran mendalam.
Praktik yang sudah terbukti dilakukan di satu sekolah dapat menjadi bahan untuk dikembangkan sesuai kebutuhan sekolah lain.
Di sinilah berbagi praktik baik memiliki nilai strategis. Berbagi bukan sekadar memamerkan keberhasilan sekolah. Lebih dari itu, berbagi menjadi proses belajar antarsekolah.
Sekolah yang sudah mencoba dapat memberikan pengalaman, sedangkan sekolah lain dapat mengambil gagasan, menyesuaikannya, lalu mengembangkannya berdasarkan kondisi masing-masing.
Pola seperti ini juga membuat inovasi pendidikan tidak bergantung pada satu pihak. Sekolah tidak hanya menjadi penerima kebijakan, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan bagi sekolah lainnya.
Guru tidak hanya mengikuti pelatihan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk membagikan pengalaman yang diperoleh dari praktik pembelajaran sehari-hari.
Semangat tersebut relevan dengan pengembangan STEM yang ingin diperluas secara nasional. STEM tidak seharusnya menjadi program yang hanya dikenal oleh sekolah-sekolah tertentu yang memiliki sumber daya lebih lengkap.
Jika tujuan akhirnya adalah meningkatkan kualitas pembelajaran, maka pengalaman dan sumber daya yang ada perlu dibuka agar dapat dipelajari dan dikembangkan oleh lebih banyak sekolah.
Integrasi STEM dengan pembelajaran mendalam, digitalisasi pembelajaran, coding, dan kecerdasan artifisial juga menunjukkan bahwa perubahan pembelajaran tidak dapat dilakukan secara terpisah.
Berbagai program tersebut diarahkan untuk mendukung pencapaian delapan dimensi profil lulusan. Artinya, teknologi dan pendekatan pembelajaran bukan tujuan akhir. Keduanya harus digunakan untuk memperkuat kemampuan yang dibutuhkan peserta didik.
Digitalisasi kemudian menjadi bagian penting dari ekosistem tersebut. Papan interaktif digital, konten pembelajaran interaktif, dan pelatihan guru dapat menjadi sarana untuk memperluas pengalaman belajar.
Namun, keberadaan perangkat tidak otomatis membuat pembelajaran menjadi lebih baik. Teknologi tetap membutuhkan guru yang mampu menggunakannya secara tepat dan memahami bagaimana teknologi tersebut mendukung tujuan pembelajaran.
Karena itu, penguatan kapasitas guru harus berjalan bersama dengan penyediaan teknologi. Guru perlu memiliki kesempatan untuk mencoba, mengevaluasi, memperbaiki, dan membagikan pengalaman penggunaan teknologi dalam pembelajaran.
Praktik nyata di sekolah menjadi sumber pembelajaran yang tidak kalah penting dibandingkan materi pelatihan.
Yang juga perlu dijaga adalah agar gerakan berbagi praktik baik tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
Praktik yang dibagikan harus dapat dipahami, dicoba, dievaluasi, dan disesuaikan oleh sekolah lain. Dengan cara itu, satu inovasi tidak hanya menghasilkan perubahan di satu tempat, tetapi dapat memicu perubahan di tempat lain.
Poinnya, kekuatan perubahan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya program yang diluncurkan. Perubahan juga ditentukan oleh kemampuan sekolah untuk belajar dari pengalaman sekolah lain.
Ketika praktik baik dibuka untuk dipelajari dan dikembangkan bersama, sekolah tidak perlu terus-menerus bekerja sendiri. Inovasi dapat tumbuh melalui kolaborasi, dan pengalaman satu sekolah dapat menjadi titik awal bagi perbaikan di sekolah lainnya.
(Direpost dari Klippedia 21/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)




