{"id":12125,"date":"2026-02-19T11:08:40","date_gmt":"2026-02-19T04:08:40","guid":{"rendered":"https:\/\/bbpmpjatim.kemendikdasmen.go.id\/main\/?p=12125"},"modified":"2026-02-19T14:28:07","modified_gmt":"2026-02-19T07:28:07","slug":"12125-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bbpmpjatim.kemendikdasmen.go.id\/main\/12125-2\/","title":{"rendered":"Mendalami Tujuan TKA: Pengamat Pendidikan Jelaskan Keunggulan TKA Dibandingkan UN"},"content":{"rendered":"\n<p>Tantangan terbesar dalam dunia pendidikan sering kali berasal dari kebiasaan dan mentalitas yang sudah mendarah daging di masyarakat. <\/p>\n\n\n\n<p>Salah satunya adalah pola pikir yang telah terbentuk terkait Ujian Nasional (UN) sebagai penentu kelulusan siswa. <\/p>\n\n\n\n<p>Namun, dengan hadirnya Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada 2026, perubahan paradigma tersebut mulai diupayakan. TKA, yang tidak ditujukan sebagai ujian penentu kelulusan, melainkan sebagai instrumen pemetaan mutu pendidikan, diharapkan mampu menggantikan pola lama yang lebih menekankan pada hasil angka dan kelulusan semata.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Satria Dharma, seorang pengamat pendidikan, TKA dirancang dengan tujuan yang lebih besar daripada sekadar mengukur kemampuan siswa dalam menghadapi ujian. <\/p>\n\n\n\n<p>Tes ini bertujuan untuk mendapatkan data capaian akademik yang terstandarisasi, objektif, dan berkualitas di seluruh Indonesia. <\/p>\n\n\n\n<p>Di satu sisi, TKA akan mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa, termasuk dalam hal literasi, numerasi, dan pemecahan masalah. <\/p>\n\n\n\n<p>Kemampuan ini jauh lebih penting untuk dibentuk, karena seiring perkembangan zaman, keterampilan berpikir kritis akan lebih dibutuhkan daripada sekadar hafalan atau kemampuan menjawab soal yang bersifat mekanistik.<\/p>\n\n\n\n<p>TKA juga menawarkan kelebihan dengan menyediakan standar penilaian yang sama di seluruh Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Ini menjadi solusi atas perbedaan standar nilai yang sering kali terjadi antar sekolah, sehingga memberikan gambaran yang lebih jelas tentang kualitas pendidikan di berbagai daerah. <\/p>\n\n\n\n<p>Keberadaan TKA akan memberi peluang bagi pendidikan di Indonesia untuk lebih objektif dalam menilai capaian akademik siswa, tanpa adanya kekhawatiran tentang ketidaksetaraan standar pendidikan yang berlaku di berbagai sekolah.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, meskipun TKA memiliki banyak keuntungan, Satria menekankan pentingnya sosialisasi yang masif kepada masyarakat. <\/p>\n\n\n\n<p>TKA harus dipahami dengan benar, agar publik tidak lagi menganggapnya sebagai ujian penentu kelulusan, seperti yang selama ini terjadi dengan Ujian Nasional. <\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, TKA seharusnya dipandang sebagai alat diagnosis untuk memperbaiki pembelajaran, bukan sebagai penentu nasib siswa. <\/p>\n\n\n\n<p>Hasil dari TKA akan lebih berguna jika dipakai sebagai &#8220;assessment for learning,&#8221; atau penilaian yang bertujuan untuk meningkatkan proses pembelajaran, bukan sekadar sebagai alat penilaian akhir.<\/p>\n\n\n\n<p>Penting untuk memahami bahwa hasil TKA tidak mempengaruhi kelulusan, dan lebih dari itu, hasil tersebut harus digunakan untuk memperbaiki kualitas pengajaran dan proses belajar mengajar di sekolah-sekolah. <\/p>\n\n\n\n<p>Jika dipahami dengan benar, TKA dapat menjadi alat yang sangat efektif untuk menilai kekuatan dan kelemahan dalam pembelajaran, serta sebagai dasar untuk menetapkan langkah-langkah perbaikan ke depan. <\/p>\n\n\n\n<p>Dengan cara ini, TKA bukan hanya mengukur kemampuan siswa, tetapi juga membantu guru dan sekolah dalam menilai efektivitas metode pengajaran yang diterapkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi banyak pihak, penerimaan terhadap TKA mungkin akan memerlukan waktu dan proses yang panjang. <\/p>\n\n\n\n<p>Terlebih lagi, mentalitas lama yang menganggap ujian sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan masih kuat tertanam. <\/p>\n\n\n\n<p>Oleh karena itu, dibutuhkan kerjasama antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat untuk mengubah pandangan ini. <\/p>\n\n\n\n<p>Melalui pendekatan yang lebih komprehensif dan berbasis pada pemahaman yang lebih baik tentang fungsi TKA, diharapkan akan muncul budaya baru dalam pendidikan, di mana penilaian tidak lagi hanya fokus pada angka atau kelulusan semata, tetapi lebih pada pengembangan kemampuan siswa secara menyeluruh.<\/p>\n\n\n\n<p>Sekali lagi, dengan pemahaman yang tepat, TKA akan menjadi alat yang sangat berguna dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. <\/p>\n\n\n\n<p>Ini adalah langkah besar menuju sistem pendidikan yang lebih adil, transparan, dan berkualitas, di mana setiap siswa diberikan kesempatan untuk menunjukkan potensi terbaik mereka, tanpa harus dibebani dengan tekanan kelulusan yang berlebihan. <\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai bagian dari perubahan besar dalam sistem pendidikan, TKA diharapkan mampu menjadi titik balik dalam menciptakan pendidikan yang lebih bermakna dan berorientasi pada pengembangan kemampuan kritis serta kreatif siswa.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>(Sumber catatan: <a href=\"https:\/\/www.antaranews.com\/berita\/5422746\/dukungan-tka-sd-smp-terus-mengalir-dari-pemda-hingga-orang-tua\">Antara<\/a>\/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tantangan terbesar dalam dunia pendidikan sering kali berasal dari kebiasaan dan mentalitas yang sudah mendarah daging di masyarakat. Salah satunya adalah pola pikir yang telah terbentuk terkait Ujian Nasional (UN) sebagai penentu kelulusan siswa. Namun, dengan hadirnya Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada 2026, perubahan paradigma tersebut mulai diupayakan. TKA, yang tidak ditujukan sebagai ujian penentu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":12126,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-12125","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"blocksy_meta":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bbpmpjatim.kemendikdasmen.go.id\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12125","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bbpmpjatim.kemendikdasmen.go.id\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bbpmpjatim.kemendikdasmen.go.id\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bbpmpjatim.kemendikdasmen.go.id\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bbpmpjatim.kemendikdasmen.go.id\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12125"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/bbpmpjatim.kemendikdasmen.go.id\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12125\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12130,"href":"https:\/\/bbpmpjatim.kemendikdasmen.go.id\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12125\/revisions\/12130"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bbpmpjatim.kemendikdasmen.go.id\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12126"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bbpmpjatim.kemendikdasmen.go.id\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12125"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bbpmpjatim.kemendikdasmen.go.id\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12125"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bbpmpjatim.kemendikdasmen.go.id\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12125"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}