Model Pendidikan Terintegrasi di SMANOR Sidoarjo Diapresiasi Ketua Komisi X dan Tim

Inside School – Selepas di hari pertama (23/2/2026) menyerap berbagai aspirasi para pemangku kepentingan dan masyarakat terkait di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Peovinsi Jawa Timur, Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, bersama tim melakukan kunjungan kerja ke SMAN Olahraga (SMANOR) Sidoarjo, Jawa Timur, pada Selasa, 24 Februari 2026.

Kunjungan tersebut bertujuan untuk meninjau secara langsung bagaimana sekolah ini mengintegrasikan kurikulum pendidikan dengan pembinaan olahraga prestasi.

SMANOR telah menciptakan model pendidikan yang berbeda, menggabungkan pelajaran akademik dengan pelatihan olahraga terstruktur, yang menjadikannya sebagai lembaga pendidikan unggulan di bidang olahraga.

Dalam kesempatan itu, Hetifah menyaksikan bagaimana SMANOR tidak hanya mengedepankan pendidikan akademik, tetapi juga mendalami aspek fisik dan mental siswa melalui pembinaan olahraga.

Menurutnya, proses seleksi peserta didik di SMANOR sangat khusus, berbeda dengan sekolah pada umumnya.

Siswa yang diterima adalah mereka yang memiliki talenta dan prestasi olahraga dari 16 cabang olahraga yang dibina oleh sekolah ini.

Proses seleksi yang ketat ini menjadikan SMANOR sebagai sekolah yang mengutamakan kualitas dan kemampuan siswa di bidang olahraga.

Di SMANOR, para siswa menjalani sistem pendidikan yang terstruktur, di mana kegiatan belajar mengajar berlangsung pada pagi hari, sementara sore hari mereka berlatih olahraga.

Sekolah ini juga menerapkan sistem boarding school, di mana siswa tinggal di asrama yang memungkinkan mereka untuk fokus pada pendidikan dan latihan olahraga tanpa gangguan dari luar.

Hal ini, menurut Hetifah, memberikan waktu yang lebih banyak bagi siswa untuk mengembangkan potensi mereka baik di bidang akademik maupun olahraga.

SMANOR mengembangkan 16 cabang olahraga yang mencakup olahraga individu dan beregu.

Beberapa cabang, seperti sepak takraw dan voli pantai, telah mencatatkan prestasi internasional yang membanggakan bagi Provinsi Jawa Timur.

Prestasi tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga memperlihatkan bahwa sekolah ini mampu menghasilkan atlet berprestasi yang siap bersaing di tingkat internasional.

Keberhasilan SMANOR dalam mengembangkan atlet-atlet berprestasi menunjukkan betapa pentingnya integrasi antara pendidikan dan olahraga di tingkat sekolah menengah.

Hanya sekitar 75 siswa yang diterima setiap angkatan di SMANOR, sehingga kualitas pembinaan dan perhatian kepada siswa dapat terjaga dengan baik.

Lulusan sekolah ini sebagian besar melanjutkan pendidikan mereka ke perguruan tinggi yang telah menjalin kerja sama dengan SMANOR, seperti Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dan beberapa perguruan tinggi lainnya.

Hal ini menunjukkan bahwa SMANOR tidak hanya mencetak atlet, tetapi juga menghasilkan individu yang siap berkarier di bidang lain, seperti sebagai pelatih atau pendidik di bidang olahraga.

Kerja sama dengan perguruan tinggi tersebut sangat diapresiasi oleh Hetifah.

Menurutnya, ini adalah langkah penting untuk memberikan masa depan yang lebih jelas bagi siswa SMANOR.

Lulusan tidak hanya diberi kesempatan untuk berkarier sebagai atlet, tetapi juga memiliki peluang untuk berkembang di bidang lain yang terkait dengan olahraga.

Dengan adanya kerja sama ini, siswa SMANOR memiliki kesempatan untuk mengejar karir ganda sebagai atlet profesional dan sebagai akademisi atau pelatih di dunia olahraga.

Dalam hal dukungan anggaran, Hetifah menjelaskan bahwa pembiayaan SMANOR berasal dari berbagai sumber.

Selain dana BOS dari pemerintah pusat dan daerah, sekolah ini juga menerima bantuan untuk pengadaan peralatan dan fasilitas sarana-prasarana olahraga.

Beberapa fasilitas penting, seperti lapangan olahraga dan peralatan latihan, telah diperbarui dengan bantuan pemerintah.

Namun, Hetifah juga mengakui masih ada tantangan dalam memenuhi kebutuhan sarana olahraga yang memerlukan standar tinggi, seperti kolam renang atau fasilitas olahraga lainnya yang berskala internasional.

Menurut Hetifah, pembinaan fasilitas olahraga dengan standar internasional tidak bisa dilakukan hanya dengan anggaran daerah atau dana swakelola saja.

Untuk itu, dibutuhkan dukungan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga, terutama untuk pembangunan fasilitas yang kompleks dan membutuhkan investasi besar.

Pembangunan fasilitas olahraga yang memenuhi standar internasional memerlukan perhatian khusus agar siswa SMANOR dapat berlatih di tempat yang sesuai dengan kebutuhan mereka untuk mencapai prestasi maksimal.

Melihat tantangan tersebut, Komisi X DPR RI akan mendorong agar solusi pembiayaan dapat segera ditemukan.

Hetifah berharap bahwa jika anggaran daerah belum mencukupi, dukungan dari APBN bisa diperkuat untuk memenuhi kebutuhan fasilitas olahraga di SMANOR dan sekolah olahraga lainnya.

Dukungan penuh terhadap sekolah-sekolah seperti SMANOR sangat penting, karena dari sini berpeluang lahir atlet-atlet unggulan yang dapat membawa nama baik Indonesia di tingkat dunia.

Dengan peningkatan kualitas fasilitas dan pembiayaan yang tepat, SMANOR dapat terus berkembang menjadi pusat pendidikan dan pembinaan olahraga yang menghasilkan atlet berprestasi.

Hetifah menegaskan bahwa mendukung sekolah seperti SMANOR adalah investasi jangka panjang bagi Indonesia.

Tidak hanya di bidang olahraga, tetapi juga untuk kemajuan pendidikan nasional secara keseluruhan.

Pendidikan yang mengintegrasikan olahraga dengan pembelajaran akademik adalah model yang harus didorong, karena melahirkan generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga sehat, tangguh, dan berprestasi.

Kabar serupa: Komisi X Tinjau SMAN Olahraga Sidoarjo, Kurikulum Terintegrasi dan Bina Atlet Berprestasi

(Sumber catatan: DPR/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Dokumentasi Kegiatan BBPMP Provinsi Jawa Timur)

Bagikan Tulisan
Skip to content