Pelatihan Fasnas Boskin di Surabaya – Keberhasilan pelatihan bagi pembelajar dewasa membutuhkan pendekatan yang berbeda dibandingkan pembelajaran konvensional.
Direktur Jenderal PAUD, Dikdasmen, PNFI Gogot Suharwoto pada Bimbingan Teknis intensif bertajuk “Penguatan Kapasitas Calon Fasilitator Nasional Implementasi BOSP Kinerja Terbaik Region 3 Tahun 2026” yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini bersama Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Timur di Harris Hotel and Conventions Gubeng, Surabaya selama empat hari, mulai Senin (6/7/2026) hingga Kamis (9/7/2026) menekankan bahwa proses pelatihan harus mampu melibatkan peserta secara aktif agar pemahaman yang diperoleh dapat lebih kuat dan mudah diterapkan.
Gogot menjelaskan bahwa pembelajaran tidak cukup dilakukan melalui penyampaian materi secara satu arah.
Mengacu pada teori Cone of Learning, metode ceramah hanya memberikan tingkat pemahaman yang terbatas kepada peserta apabila tidak disertai keterlibatan langsung dalam proses belajar.
Menurutnya, peserta perlu dilibatkan melalui berbagai aktivitas yang mendorong pengalaman langsung.
Pendekatan konstruktivisme, pembelajaran berbasis proyek, dan pembelajaran berbasis penyelidikan menjadi cara yang dapat digunakan agar peserta menemukan pemahaman melalui proses yang mereka jalani sendiri.
Karena itu, para Fasilitator Nasional (Fasnas) diminta menjalankan peran sebagai fasilitator, bukan sekadar instruktur yang memberikan arahan.
Fasnas perlu menciptakan suasana belajar yang mendorong diskusi, praktik, simulasi, dan kerja sama bersama Fasilitator Daerah (Fasda).
Gogot menegaskan bahwa proses pendampingan harus dibangun melalui prinsip belajar bersama dan memecahkan persoalan secara kolaboratif.
Melalui proses tersebut, para fasilitator dapat saling bertukar pengalaman dan menemukan solusi yang sesuai dengan kondisi di lapangan.
Ia juga menyampaikan bahwa semakin banyak seseorang berbagi pengetahuan dan melatih orang lain, semakin kuat pula pemahaman yang dimilikinya.
Pendekatan ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap program di kalangan fasilitator daerah dan kepala sekolah.
Dengan pola pembelajaran yang aktif dan kolaboratif, para fasilitator diharapkan mampu mendukung keberlanjutan program peningkatan mutu pendidikan.
Pendampingan yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga membangun kemampuan untuk menyelesaikan tantangan pendidikan secara bersama.
(Sumber catatan: PAUDPEDIA/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Dokumentasi Kegiatan Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Jawa Timur)




