Smart Grub Berawal dari Keprihatinan ke Program Literasi yang Sekadar Formalitas

Inside School – Kepala Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Timur, Praptono, menekankan satu prinsip utama dalam menumbuhkan literasi, yakni keberanian menulis.

Menurutnya, siswa sebaiknya tidak terlalu memikirkan apakah tulisan mereka menarik atau benar secara mutlak.

Yang terpenting adalah menulis terlebih dahulu agar ide dan perasaan dapat dieksplorasi dan dituangkan dalam kalimat.

Dalam praktiknya, keberanian ini memungkinkan siswa menulis berbagai bentuk karya.

Praptono menyoroti karya yang sudah ada, mulai dari biografi hingga cerpen, yang tersusun dengan alur cerita yang jelas dan struktur kalimat yang enak dibaca.

Hal tersebut menunjukkan bahwa dorongan awal untuk berani menulis berdampak pada kualitas karya siswa.

Kepala SMPN 9 Kota Probolinggo, Qamaruddin sepakat dengan Kepala BBPMP Jawa Timur, ia menambahkan bahwa motivasi menjadi faktor penting dalam menulis.

Menurutnya, menulis bisa menjadi proses yang melelahkan dan sering kali ide tidak muncul begitu saja.

Namun, dengan membiasakan diri untuk menulis dulu, ide akan mengikuti secara alami.

Qamarudin memberi contoh pengalaman pribadinya.

Sejak Oktober lalu, ia berhasil menulis delapan buku.

Menurutnya, menulis memberikan kepuasan tersendiri, dan kesenangan itu memicu produktivitas lebih lanjut.

Hal ini juga menjadi contoh nyata bagi siswa tentang bagaimana menulis bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan sekaligus bermakna.

Salah satu pertanyaan mendidiknya menurut Praptono adalah dari mana ide itu muncul.

Qamaruddin menjelaskan bahwa ide awal program literasi muncul dari keprihatinannya terhadap implementasi program pemerintah.

Banyak lembaga hanya memberikan lembar tugas menulis, merangkum, atau membuat resume tanpa menghasilkan karya yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kondisi ini mendorong Qamaruddin mencanangkan program Smart Grub dengan konsep satu murid, satu guru, dan satu buku.

Awalnya, beberapa guru merasa target ini sulit dicapai.

Namun, pendekatan yang menekankan menulis dulu tanpa takut salah membuat guru dan siswa mau berpartisipasi.

Proses ini memungkinkan siswa menulis tanpa beban.

Kesalahan atau kekurangan akan diperbaiki melalui tahap editing bersama, sehingga kualitas karya tetap terjaga.

Yang terpenting adalah siswa mau menulis terlebih dahulu, kemudian kualitas tulisan bisa dikembangkan bersama.

Hingga saat ini, program Smart Grub telah berhasil menghasilkan lebih dari seribu judul buku yang berbeda.

Angka ini menunjukkan pencapaian yang signifikan, sekaligus menjadi bukti bahwa strategi menumbuhkan literasi dengan pendekatan keberanian menulis dan pendampingan terstruktur berhasil diterapkan.

Dengan dukungan kepala sekolah, guru, dan tim editor, ide yang awalnya tampak sulit diwujudkan, kini hal yang bagaikan pungguk merindukan bulan tadi menjadi pencapaian nyata yang tidak hanya menumbuhkan kebiasaan menulis, tetapi juga memperkuat budaya literasi di SMPN 9 Kota Probolinggo.

Simak selengkapnya di tayangan berikut:

(Foto atau ilustrasi dipenuhi dari You Tube SMPN 9 Kota Probolinggo)

Bagikan Tulisan
Skip to content