Sekolah Aman Tidak Hanya Soal Fasilitas, tetapi Juga Cara Murid Dihargai

Budaya Sekolah Aman dan Nyaman – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari capaian akademik semata.

Lingkungan belajar yang aman dan nyaman menjadi syarat utama agar murid dapat berkembang secara optimal.

Dalam Seminar Budaya Sekolah Aman dan Nyaman di Jakarta, ia menegaskan bahwa keamanan di sekolah tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga keamanan sosial dan psikologis bagi setiap murid.

Menurut Mendikdasmen, masih ada kondisi di sekolah yang secara sosial belum sepenuhnya aman.

Tekanan antarmurid, perbandingan kemampuan, hingga budaya saling merendahkan masih dapat ditemukan dalam proses belajar.

Situasi seperti ini dinilai berpotensi menghambat tumbuh kembang murid, bahkan memunculkan praktik perundungan yang sering kali dianggap hal biasa.

Ia menyoroti bahwa sistem perankingan capaian akademik dapat memicu perbandingan tidak sehat di antara murid.

Ketika kemampuan belajar dijadikan ukuran utama untuk menilai seseorang, muncul kecenderungan saling mengejek dan merendahkan.

Murid yang dianggap lebih pintar bisa merasa lebih unggul, sementara murid lain merasa rendah diri.

Kondisi inilah yang menurutnya perlu diubah melalui pendekatan pendidikan yang lebih menghargai setiap proses belajar.

Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa keamanan intelektual juga menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif.

Murid harus merasa aman untuk belajar, mencoba, dan melakukan kesalahan tanpa takut dipermalukan.

Sekolah seharusnya menjadi tempat yang memberi ruang bagi setiap anak untuk berkembang sesuai kemampuan dan tahap belajarnya masing-masing.

Peran guru dinilai sangat penting dalam mengubah cara pandang murid terhadap angka dan ranking.

Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membangun nilai penghormatan antarsesama murid.

Cara guru menyampaikan pengetahuan akan memengaruhi bagaimana murid memahami arti belajar, keberhasilan, dan hubungan sosial di sekolah.

Pendekatan ini kemudian dituangkan Kemendikdasmen melalui kebijakan deep learning.

Dalam konsep tersebut, pembelajaran tidak hanya berfokus pada hasil akademik, tetapi juga pada pembentukan nilai dan karakter.

Proses belajar diarahkan agar memiliki makna, membangun penghormatan, dan menciptakan hubungan yang sehat antara guru dan murid maupun antarmurid.

Mendikdasmen menekankan bahwa kata kunci utama dalam deep learning adalah memuliakan semua pihak yang terlibat dalam proses pendidikan.

Pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari nilai dan penghormatan terhadap manusia.

Karena itu, pendekatan pendidikan perlu berubah, bukan hanya dalam isi materi yang diajarkan, tetapi juga dalam cara pengetahuan disampaikan kepada murid.

Pesan ini menjadi pengingat bahwa sekolah yang aman bukan hanya sekolah dengan bangunan yang baik atau aturan yang lengkap.

Sekolah yang aman adalah sekolah yang mampu menjaga harga diri murid, menghormati perbedaan kemampuan, dan menghadirkan ruang belajar yang sehat secara sosial maupun psikologis.

Dari lingkungan seperti itulah pendidikan yang bermakna dapat tumbuh.

(Foto atau ilustrasi dipenuhi dari You Tube Kemendikdasmen)

Bagikan Tulisan
Skip to content