Melawan Ketergantungan Gawai, Situbondo Kembalikan Ruang Bermain Anak

Kabar Daerah – Perkembangan teknologi digital membawa banyak perubahan dalam kehidupan anak-anak.

Penggunaan gawai yang semakin tinggi membuat ruang interaksi sosial mulai berkurang.

Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, mengambil langkah untuk menghadirkan kembali aktivitas yang mendorong kebersamaan melalui pelestarian permainan tradisional.

Melalui Festival Permainan Tradisional, Pemerintah Kabupaten Situbondo berupaya mengajak anak-anak kembali mengenal permainan yang menjadi bagian dari warisan budaya.

Kegiatan yang digelar di Alun-Alun Situbondo tersebut menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Kabupaten Situbondo ke-208 dan diikuti dengan suasana kebersamaan antaranak.

Festival tersebut tidak hanya menjadi kegiatan hiburan, tetapi juga menjadi bentuk kepedulian pemerintah daerah terhadap perkembangan karakter anak.

Permainan tradisional dipandang sebagai media yang dapat memperkuat interaksi sosial, membangun kerja sama, serta mengenalkan nilai kebersamaan yang mulai berkurang di tengah meningkatnya penggunaan teknologi digital.

Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo menunjukkan keterlibatan langsung dalam kegiatan tersebut.

Ia tidak hanya menyaksikan jalannya festival, tetapi ikut bermain bersama anak-anak dengan mencoba berbagai permainan tradisional seperti egrang, gasing, dan kelereng.

Kehadiran pemimpin daerah di tengah masyarakat menjadi contoh bahwa pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan bersama.

Menurut Yusuf Rio, pembinaan terhadap anak-anak dan pelestarian permainan tradisional menjadi langkah yang perlu dilakukan untuk menjaga karakter sosial generasi muda.

Ia mendorong agar anak-anak memiliki ruang interaksi yang lebih luas dan tidak hanya bergantung pada aktivitas individual melalui penggunaan telepon pintar.

Berbagai permainan tradisional seperti congklak, egrang, balap karung, panah bambu, bakiak, bola bekel, yoyo, gasing, karet bentel, hingga kelereng kembali diperkenalkan kepada masyarakat.

Permainan tersebut mengajarkan anak-anak untuk berinteraksi, bekerja sama, melatih ketangkasan, serta membangun semangat kebersamaan.

Pemerintah Kabupaten Situbondo melihat permainan tradisional bukan hanya sebagai bagian dari masa lalu, tetapi sebagai sarana pendidikan karakter.

Melalui aktivitas bermain bersama, anak-anak belajar mengenai nilai gotong royong, persatuan, dan kemampuan menyelesaikan tantangan secara bersama-sama.

Upaya ini diarahkan agar permainan tradisional tidak berhenti sebagai kegiatan tahunan.

Pemerintah daerah berharap permainan tersebut dapat menjadi pilihan aktivitas anak-anak dalam keseharian, baik di ruang publik maupun di lingkungan rumah masing-masing.

Gerakan pelestarian permainan tradisional di Situbondo menunjukkan bahwa penguatan karakter anak dapat dilakukan melalui pendekatan budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Di tengah perkembangan teknologi, ruang bermain yang mendorong interaksi langsung tetap menjadi bagian penting dalam membentuk generasi yang memiliki kepedulian sosial dan semangat kebersamaan.

(Sumber catatan: Times Indonesia/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Times Indonesia)

Bagikan Tulisan
Skip to content