Memuliakan Ilmu melalui Pembelajaran Mendalam

Pembelajaran mendalam (PM) tidak seharusnya dipahami hanya sebagai perubahan cara mengajar. PM mengandung cara pandang tentang bagaimana manusia belajar, bagaimana guru mengawal proses belajar, dan bagaimana ilmu pengetahuan dipelajari serta digunakan.

Dalam kerangka PM terdapat filosofi pembelajaran yang memuliakan, termasuk memuliakan ilmu. Memuliakan ilmu berarti menempatkan ilmu sesuai dengan hakikat, struktur, kaidah, dan tradisi keilmuannya. Ilmu tidak boleh direduksi menjadi sekadar kumpulan informasi yang harus dipindahkan dari buku ke kepala peserta didik. Ilmu memiliki cara tertentu untuk memperoleh, mengembangkan, menguji, menafsirkan, dan menggunakan pengetahuan. Cara tersebut berbeda-beda sesuai dengan karakteristik setiap bidang ilmu.

Kita terkadang terlalu sibuk membicarakan metode pembelajaran, media pembelajaran, teknologi, atau aktivitas peserta didik, tetapi kurang memperhatikan ilmu apa yang sedang dipelajari dan bagaimana ilmu tersebut seharusnya dipelajari. Pembelajaran yang mendalam tidak mungkin terjadi tanpa menghormati ilmu yang dipelajari.

Memuliakan ilmu berarti memahami bahwa ilmu bukan sekadar fakta. Matematika, misalnya, bukan sekadar kumpulan rumus. Di dalamnya terdapat cara bernalar, membuat hubungan, menemukan pola, menyusun dugaan, dan membangun pembuktian. Ilmu pengetahuan alam juga bukan sekadar kumpulan fakta tentang alam. Peserta didik perlu memahami bagaimana pengetahuan tentang alam diperoleh melalui pengamatan, pengukuran, penyusunan hipotesis, pengujian, analisis bukti, dan penalaran.

Sejarah bukan sekadar hafalan tahun, nama tokoh, dan urutan peristiwa. Sejarah menuntut kemampuan membaca sumber, menilai kredibilitas sumber, memahami konteks, membandingkan perspektif, dan menyusun interpretasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Bahasa juga bukan sekadar kosakata dan tata bahasa. Bahasa merupakan sistem yang digunakan manusia untuk memahami, berkomunikasi, membangun makna, merepresentasikan gagasan, dan berinteraksi dalam konteks sosial dan budaya. Demikian pula ilmu sosial, seni, teknologi, pendidikan, agama, dan berbagai bidang ilmu lainnya memiliki karakteristik dan tradisi keilmuan masing-masing.

Mengajarkan suatu ilmu berarti tidak hanya mengajarkan apa yang diketahui, tetapi juga bagaimana pengetahuan itu dibangun dan digunakan. Inilah salah satu inti memuliakan ilmu. Dalam konteks ini perlu diluruskan pula pemahaman bahwa sesuatu baru dapat disebut ilmiah apabila dibuktikan melalui eksperimen. Eksperimen memang merupakan metode ilmiah yang sangat penting, terutama ketika penelitian bertujuan menguji hubungan sebab-akibat dalam kondisi yang memungkinkan manipulasi variabel. Namun, eksperimen bukan satu-satunya metode ilmiah. Astronomi banyak bertumpu pada observasi terhadap benda-benda langit yang tidak mungkin dimanipulasi secara eksperimental. Sejarah mengkaji peristiwa masa lalu melalui sumber dan kritik historis. Linguistik menggunakan analisis bahasa dan korpus. Antropologi menggunakan observasi, wawancara, dan etnografi. Matematika menggunakan penalaran deduktif dan pembuktian.

Oleh karena itu, memuliakan ilmu berarti menghormati kaidah keilmuan yang berlaku dalam setiap bidang ilmu. Tidak tepat memaksa matematika harus dibuktikan seperti ilmu eksperimental. Tidak tepat pula memaksa sejarah, bahasa, atau ilmu sosial menggunakan eksperimen sebagai satu-satunya ukuran keilmiahan. Yang ilmiah bukanlah semata-mata metode tertentu, melainkan ketepatan metode dengan pertanyaan, objek, dan hakikat pengetahuan yang dikaji, disertai argumentasi serta bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ilmu yang Mendasari Mata Pelajaran

Konsekuensi penting dari pandangan tersebut bagi pendidikan ialah bahwa setiap mata pelajaran harus tetap memiliki disciplinary integrity, yakni keutuhan disiplin keilmuannya. Pembelajaran boleh menggunakan berbagai pendekatan pedagogis. Teknologi digital dan kecerdasan artifisial boleh dimanfaatkan. Peserta didik boleh belajar melalui proyek, penyelidikan, diskusi, kolaborasi, permainan, simulasi, atau berbagai pengalaman lainnya.

Namun, jangan sampai aktivitas pembelajaran menjadi lebih penting daripada ilmu yang sedang dipelajari. Peserta didik dapat bekerja dalam kelompok, tetapi yang lebih penting ialah apa yang mereka pikirkan dan hasilkan sebagai bagian dari proses keilmuan. Peserta didik dapat menggunakan kecerdasan artifisial, tetapi mereka tetap harus mampu mempertanyakan jawaban, memeriksa sumber, menilai bukti, dan mempertanggungjawabkan kesimpulan. Peserta didik dapat melakukan proyek, tetapi proyek tersebut harus mempertemukan mereka dengan pengetahuan dan cara berpikir yang autentik dari disiplin ilmu yang dipelajari.

Dengan demikian, pembelajaran yang aktif belum tentu pembelajaran yang mendalam. Aktivitas yang banyak belum tentu menghasilkan pemahaman yang mendalam. Pembelajaran menjadi mendalam ketika aktivitas peserta didik membawa mereka ke dalam struktur mata pelajaran yang dipelajarinya dan cara berpikir disiplin ilmu yang mendasarinya.

Pandangan inilah yang menjadikan memuliakan ilmu sangat erat hubungannya dengan pengalaman belajar dalam kerangka PM. Pengalaman belajar dalam PM mencakup memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Ketiga pengalaman tersebut tidak dapat dilepaskan dari ilmu yang dipelajari. Pada tahap memahami, peserta didik tidak cukup menghafal informasi. Mereka perlu memahami konsep, prinsip, hubungan, struktur, dan alasan yang mendasari suatu pengetahuan. Pada tahap mengaplikasi, peserta didik menggunakan pengetahuan tersebut dalam situasi yang relevan, termasuk situasi baru.

Di sinilah ilmu tidak berhenti sebagai pengetahuan deklaratif, tetapi menjadi pengetahuan yang dapat digunakan untuk memecahkan persoalan. Pada tahap merefleksi, peserta didik meninjau kembali apa yang dipelajari, bagaimana mereka memperoleh pemahaman, apa yang masih belum dipahami, dan bagaimana pengetahuan tersebut bermakna bagi dirinya serta lingkungannya. Meski demikian, pengalaman belajar seperti itu juga harus disesuaikan dengan kekhasan karakteristik bidang ilmu yang mendasari mata pelajaran, apakah lebih bersifat kognitif, psikomotorik, atau afektif/nilai-nilai/karakter.

Memuliakan Ilmu dan Peran Guru

Memuliakan ilmu juga berarti memuliakan guru sebagai orang yang memiliki kompetensi untuk menghadirkan ilmu dalam pengalaman belajar peserta didik. Guru yang memahami ilmunya tidak akan sekadar bertanya, ‘metode apa yang harus saya gunakan’, tetapi juga akan bertanya, ‘apa hakikat ilmu yang saya ajarkan’, ‘bagaimana disiplin ilmu ini membangun pengetahuannya’, ‘cara berpikir apa yang harus dialami peserta didik’, ‘pengalaman belajar apa yang memungkinkan mereka memahami ilmu tersebut secara mendalam’. Pertanyaan-pertanyaan itu membuat guru tidak menjadi sekadar pelaksana prosedur pembelajaran. Guru menjadi profesional yang mengambil keputusan pedagogis berdasarkan pemahaman terhadap peserta didik sekaligus terhadap ilmu yang diajarkannya.

Di sinilah prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan dalam PM memperoleh maknanya. Berkesadaran berarti guru dan peserta didik mengetahui apa yang sedang dipelajari dan mengapa hal itu penting. Bermakna berarti ilmu yang dipelajari memiliki hubungan dengan kehidupan, pengalaman, kebutuhan, atau persoalan yang relevan. Menggembirakan bukan berarti pembelajaran harus selalu berupa permainan atau hiburan. Pembelajaran dapat menggembirakan karena peserta didik mengalami kepuasan intelektual ketika memahami sesuatu yang sebelumnya belum dipahami, mampu menyelesaikan persoalan, menemukan hubungan, atau menghasilkan sesuatu yang bermakna.

Memuliakan ilmu juga berkaitan erat dengan cara kita memandang peserta didik. Jangan pernah meremehkan peserta didik di jenjang pendidikan mana pun—dari PAUD hingga pendidikan doktor—hanya karena mereka tampak diam di kelas. Diam bukan berarti tidak berpikir. Peserta didik mungkin sedang mengamati, menghubungkan informasi, mengingat pengalaman, mempertimbangkan jawaban, atau bahkan sedang membangun pemahaman yang belum siap diungkapkan. Jika kita memuliakan ilmu, kita juga harus memuliakan proses intelektual peserta didik ketika berhadapan dengan ilmu tersebut. Tugas guru bukan memaksa peserta didik segera menghasilkan jawaban, melainkan menciptakan kondisi yang memungkinkan mereka mengembangkan pemikiran secara bertahap, mendalam, dan bertanggung jawab. PM menuntut kesabaran intelektual.

Memuliakan Ilmu di Era AI

Saat ini peserta didik dapat memperoleh jawaban hampir seketika. Namun, memperoleh jawaban tidak sama dengan memperoleh pengetahuan. Jika kecerdasan artifisial (AI) dapat menghasilkan sebuah jawaban, peserta didik justru perlu memiliki kemampuan yang lebih kuat untuk bertanya: ‘apakah jawaban itu benar’, ‘apa buktinya’, ‘dari mana sumbernya’, ‘bagaimana cara memperoleh kesimpulan tersebut’, ‘apakah ada perspektif lain’, dan ‘bagaimana saya mempertanggungjawabkannya’.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut pada hakikatnya merupakan bentuk memuliakan ilmu. Teknologi boleh mempercepat akses terhadap informasi, tetapi nilai ilmu terletak pada kemampuan manusia memahami, menilai, menggunakan, dan mengembangkan pengetahuan secara bertanggung jawab.

Oleh karena itu, semakin canggih teknologi, semakin penting pendidikan memuliakan ilmu. Memuliakan ilmu berarti mengajarkan ilmu sesuai hakikatnya, mempelajarinya dengan cara berpikir yang benar, menggunakannya secara bertanggung jawab, dan mengembangkannya untuk kemaslahatan manusia.

(Direpost dari Media Indonesia/Penulis: Ali Saukah Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur, Anggota Dewan Pendidikan Nasional/Judul asli opini: Memuliakan Ilmu dalam Pembelajaran Mendalam/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari Google Image)

Bagikan Tulisan
Skip to content