Model Swakelola di Program Revitalisasi, Angkat Perekonomian Masyarakat Sekitar

Podcast Beraksi – Program revitalisasi sekolah di Jawa Timur pada tahun 2025 memberikan dampak yang luar biasa, tidak hanya untuk sekolah-sekolah yang mendapatkan bantuan, tetapi juga untuk masyarakat di sekitarnya.

Kepala BBPMP Jawa Timur, Praptono di Podcast Beraksi (Berbagi Konten Edukasi) pada Selasa (3/2/2026), menjelaskan bahwa perubahan yang terjadi tidak hanya dirasakan oleh pihak sekolah, tetapi juga oleh warga sekitar.

Masyarakat menunjukkan antusiasme yang besar karena perekonomian setempat turut berkembang.

Berbagai aktivitas yang terkait dengan pembangunan, seperti pembelian material dan pengerjaan bangunan, melibatkan tenaga kerja lokal.

Para tukang dan pekerja bangunan yang mengerjakan proyek revitalisasi kebanyakan berasal dari sekitar sekolah, bukan dari perusahaan besar atau kontraktor luar daerah. Hal ini memberikan dampak ekonomi positif yang langsung dirasakan oleh masyarakat sekitar.

Praptono juga menegaskan keputusan yang diambil oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti untuk merubah pola pelaksanaan revitalisasi dari sistem kontraktual menjadi sistem swakelola adalah langkah yang sangat bijak dan cerdas.

Dengan sistem ini, kepala sekolah diberi tanggung jawab penuh untuk mengelola dan memanfaatkan dana yang diberikan.

Keputusan tersebut memungkinkan sekolah untuk memberdayakan masyarakat sekitar, sekaligus memastikan bahwa anggaran yang diterima benar-benar digunakan sesuai kebutuhan lapangan.

Baca juga: 78 persen masyarakat nilai baik PHTC revitalisasi sekolah

Program tersebut mencerminkan komitmen pemerintah untuk mengirimkan dana langsung ke sekolah tanpa melalui birokrasi yang berlarut-larut atau berlapis-lapis (berbeli-belit), sehingga proses revitalisasi dapat berjalan dengan lebih cepat dan tepat sasaran.

Praptono menambahkan bahwa dana yang disalurkan untuk program revitalisasi ini tidak dibagi rata, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing sekolah.

Total alokasi dana sebesar 912 miliar rupiah dibagi untuk 1.391 satuan pendidikan, dengan jumlah dana yang diterima tiap sekolah bergantung pada kondisi dan skala perbaikan yang diperlukan.

Sekolah-sekolah yang membutuhkan revitalisasi besar, seperti perbaikan bangunan yang rusak parah, mendapatkan dana yang lebih besar. Sebaliknya, sekolah-sekolah dengan kebutuhan lebih kecil mendapatkan dana yang lebih sedikit.

Misalnya, beberapa sekolah PAUD hanya menerima sekitar 120 juta rupiah, sementara sekolah yang lebih besar dapat menerima dana hingga 2 miliar rupiah.

Namun, meskipun ada sekolah yang mendapatkan dana lebih besar, Praptono menegaskan bahwa dana yang diberikan berdasarkan proposal yang diajukan oleh masing-masing sekolah.

Setiap proposal harus disertai dengan rincian anggaran (RAB), yang kemudian akan dievaluasi oleh tim ahli. Tim ini akan memastikan bahwa anggaran yang diajukan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi riil di lapangan.

Misalnya, jika sebuah sekolah mengajukan dana sebesar 1,2 miliar rupiah untuk perbaikan, namun setelah evaluasi diketahui bahwa hanya 800 juta rupiah yang diperlukan, maka sekolah tersebut hanya akan menerima dana sebesar yang diperlukan.

Selain itu, dalam pelaksanaannya, Praptono menjelaskan bahwa setiap sekolah yang menerima dana revitalisasi diawasi oleh lembaga yang dimitrakan dengan Kemendikdasmen, yaitu perguruan tinggi yang berperan sebagai fasilitator.

Fasilitator ini berfungsi seperti konsultan perencana dan pengawas untuk memastikan bahwa penggunaan anggaran dan pelaksanaan revitalisasi berjalan sesuai dengan perencanaan yang telah disusun.

Dengan adanya pengawasan yang ketat dari fasilitator tadi, diharapkan kualitas revitalisasi dapat terjamin, sehingga hasil akhirnya benar-benar dapat dimanfaatkan oleh siswa dan masyarakat.

Revitalisasi di atas tidak hanya fokus ke perbaikan fisik bangunan, tetapi juga pada pembangunan fasilitas yang sangat dibutuhkan oleh sekolah-sekolah yang selama ini kekurangan sarana.

Misalnya, banyak sekolah yang membangun ruang Unit Kesehatan Siswa (UKS) dan toilet baru, karena banyak sekolah yang sebelumnya tidak memiliki fasilitas toilet yang memadai.

Dalam beberapa kasus, siswa terpaksa menggunakan sungai atau tempat lain yang tidak layak untuk kebutuhan tersebut. Kini, dengan adanya revitalisasi, mereka bisa belajar dalam kondisi yang lebih sehat dan nyaman.

Program revitalisasi ini juga mencakup pembangunan ruang kelas baru untuk menampung jumlah siswa yang terus meningkat.

Praptono menjelaskan bahwa seiring dengan bertambahnya jumlah siswa di setiap kelas, banyak sekolah yang mengalami kekurangan ruang kelas.

Oleh karena itu, pembangunan ruang kelas baru menjadi salah satu prioritas dalam program ini. Dengan adanya ruang kelas tambahan, diharapkan proses pembelajaran dapat berlangsung lebih baik, dengan jumlah siswa yang lebih terkontrol di setiap kelas.

Praptono percaya bahwa meskipun masih ada banyak tantangan yang harus dihadapi, terutama terkait dengan keterbatasan anggaran, program revitalisasi ini memberikan harapan besar untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Jawa Timur.

Tahun pertama pelaksanaan program ini sudah menunjukkan hasil yang positif, namun Praptono menegaskan bahwa ini baru awal dari perjalanan panjang untuk memastikan bahwa setiap sekolah di Jawa Timur memiliki fasilitas yang memadai untuk mendukung proses pembelajaran yang berkualitas.

Meskipun revitalisasi ini memberikan dampak yang sangat positif, Praptono juga menyadari bahwa kebutuhan perbaikan sarana pendidikan di Jawa Timur masih sangat besar.

Banyak sekolah yang merasa bahwa fasilitas yang mereka miliki belum cukup untuk mendukung pembelajaran yang efektif.

Namun, Praptono optimis, dengan komitmen yang kuat dari pemerintah dan dukungan dari masyarakat, program ini akan terus berlanjut dan berkembang, sehingga setiap sekolah di Jawa Timur bisa mendapatkan fasilitas yang lebih baik ke depannya.

Program revitalisasi adalah wujud nyata dari komitmen pemerintah untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia.

Dengan memberdayakan kepala sekolah dan masyarakat sekitar dalam pengelolaan dana, serta memastikan adanya pengawasan yang ketat, program tersebut diharapkan dapat menciptakan sekolah-sekolah yang tidak hanya memiliki fasilitas yang memadai, tetapi juga mampu memberikan pengalaman belajar yang berkualitas bagi para siswa.

Sebagai bagian dari upaya mewujudkan pendidikan yang lebih baik, program ini menjadi harapan bagi masa depan pendidikan di Jawa Timur dan Indonesia secara keseluruhan.

Simak selengkapnya di tayangan berikut:

(Sumber catatan: You Tube BBPMP Provinsi Jawa Timur/Foto atau ilustrasi dipenuhi dari You Tube BBPMP Provinsi Jawa Timur)

Bagikan Tulisan
Skip to content